Sektor Pertanian Dilirik Anak Muda, Petani Ini Sebut Bertani Bisa Hidup Slow Living

Fitri Mulia
Petani muda Andik Nur Prabowo mengajak generasi muda terjun ke sektor pertanian seiring membaiknya harga gabah, ketersediaan pupuk subsidi, dan dukungan program pemerintah. Foto Instagram/ist

JAKARTA, iNewsMuria.id - Sektor pertanian mulai dilirik generasi muda karena masih banyaknya lahan dan potensi di tengah sulitnya mencari pekerjaan. Praktisi penggerak pemuda tani Andik Nur Prabowo mengajak generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian seiring membaiknya kondisi usaha tani di Indonesia. 

Menurut dia, peningkatan harga gabah, ketersediaan pupuk subsidi, program pompanisasi, dan penyerapan hasil pertanian menjadi sejumlah faktor yang mendorong minat anak muda terhadap sektor ini. Andik menilai bertani dapat menjadi pilihan pekerjaan yang memberikan penghidupan sekaligus keseimbangan kehidupan pribadi. 

“Daripada turun ke jalan, mending turun ke lahan. Karena masih banyak pekerjaan lahan,” kata Andik dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Ia mengatakan, kehidupan sebagai petani tidak harus diukur dari besarnya penghasilan semata, tetapi juga dari kesempatan menjalani keseharian bersama keluarga. “Sore lihat tanaman, habis magrib kumpul anak istri, itu cukup,” ujarnya menggambarkan kehidupan yang ingin dijalaninya.

Menurut Andik, salah satu faktor yang membuat sektor pertanian semakin menarik adalah perbaikan harga pembelian gabah di tingkat petani. Pemerintah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram, sementara harga gabah di lapangan disebut dapat mencapai Rp8.500 per kilogram.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan periode sebelum 2025, ketika harga Gabah Kering Panen di tingkat petani sulit menembus Rp6.000 per kilogram. Pada 2021, harga gabah bahkan berada di kisaran Rp4.500 hingga Rp4.900 per kilogram, berdasarkan data yang disampaikan Andik.

Selain harga gabah, ketersediaan pupuk subsidi yang lebih berkelanjutan dinilai membantu petani menjalankan kegiatan produksi. Andik mengatakan, pupuk yang datang lebih awal membuat petani tidak lagi terlalu bergantung pada pupuk nonsubsidi yang harganya dapat mencapai tiga hingga empat kali lipat.

“Dulu sering telat, waktu pemupukan belum datang,” kata Andik saat membandingkan kondisi pasokan pupuk sebelumnya dengan situasi yang ia rasakan sekarang. Ia juga menyoroti perbaikan sarana produksi dan irigasi yang dinilai mendukung aktivitas pertanian.

Andik turut menilai program pompanisasi membantu mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian. Di sisi lain, ia menyebut Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu program yang berpotensi mendukung penyerapan hasil pertanian, meskipun materi yang disampaikan tidak merinci besaran dampaknya.

Menurut Andik, kondisi harga beras yang stabil juga menjadi salah satu perkembangan yang diperhatikan dalam sektor pertanian. “Beras harganya stabil,” ujarnya. 

Melalui berbagai perkembangan tersebut, Andik berharap semakin banyak anak muda yang melihat pertanian sebagai pilihan profesi yang layak ditekuni. Ia mengajak generasi muda untuk turun langsung ke lahan dan memanfaatkan peluang yang tersedia, sekaligus berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian nasional.
 

Editor : Arif F

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network