SOLO,iNewsMuria.id-Aset perbankan di Solo Raya naik 3,62 persen menjadi Rp 113,93 triliun pada September 2025 dari periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp 109,95 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun juga meningkat 5,38 persen menjadi Rp 103,25 triliun.
Namun demikian, kredit/pembiayaan perbankan yang disalurkan mengalami penurunan 4,02% atau sebesar Rp 4,33 triliun, dari sebelumnya Rp 107,545 triliun menjadi Rp 103,217 triliun. Untuk NPL atau angka kredit bermasalah juga turun dari 10,08% menjadi 8,64%.
Dengan naiknya dana pihak ketiga yang dihimpun serta turunnya kredit/pembiayaan yang disalurkan, itu memperlihatkan kondisi ekonomi nasional atau di wilayah Solo Raya menunjukkan tidak sedang baik-baik saja.
"Perbankan masih wait and see, menunggu kebijakan pemerintah," kata Kepala Otoritas Jasa Keuangan / OJK Solo Eko Hariyanto dalam media gathering bersama wartawan bisnis dan ekonomi Solo Raya.
"Perbankan sangat berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan dan memilih untuk menjaga atau menekan NPL. Saya rasa percuma menyalurkan banyak pembiayaan kalau nantinya menambah kredit bermasalah," kata Eko.
Dalam kesempatan itu, Eko Haryanto yang didampingi dua deputinya, juga menyampaikan bahwa jumlah Bank Perekonomian Rakyat di Solo Raya berkurang sembilan bank, dari 70 BPR menjadi 61 BPR. Menurut Eko, penurunan jumlah BPR itu bukan karena bangkrut atau dilikuidasi tapi.
"Tujuh BPR ini melakukan konsolidasi atau merger, konsekwensi dari POJK Nomor 7 tahun 2024 tentang BPR dan BPRS. Dimana BPR yang masih dalam satu kepemilikan harus konsolidasi atau merger," jelasnya.(*)
Editor : Arif F
Artikel Terkait
