get app
inews
Aa Text
Read Next : Konsisten Dukung Pelestarian Budaya, Puspo Wardoyo Terima Penghargaan dari Keraton Surakarta

Satu-satunya di Dunia, Teknologi Asal Indonesia Ini Dipercaya untuk Konsumsi Haji

Sabtu, 16 Mei 2026 | 11:07 WIB
header img
Owner Wong Solo Group, H. Puspo Wardoyo memperlihatkan produk makanan siap saji tanpa bahan pengawet bagi para jamaah haji di Arab Saudi. Foto : Langgeng Widodo.

SOLO,iNewsMuria.id-Di tengah padatnya jutaan jemaah haji di Tanah Suci, kebutuhan makanan bukan sekadar soal rasa, tetapi juga soal ketahanan, keamanan, dan kecepatan distribusi.

Dari kebutuhan besar itulah lahir sebuah inovasi teknologi pangan karya anak bangsa yang kini disebut menjadi satu-satunya di dunia untuk kebutuhan konsumsi haji.

Adalah PT Halalan Thoyyiban Indonesia (HaTI), unit usaha di bawah naungan Wong Solo Group milik H. Puspo Wardoyo, yang mengembangkan makanan siap saji tanpa bahan pengawet namun tetap awet hingga 18 bulan dan dapat langsung disantap tanpa dipanaskan.

Inovasi tersebut disampaikan langsung oleh Puspo Wardoyo saat ditemui di Hotel Capsule Kalipepe Land, Sabtu (16/05//2026).

“Kita menciptakan resep yang makanan ini bisa dinikmati tanpa treatment apa pun. Tanpa dipanasi, tanpa direbus, tanpa microwave, tapi langsung bisa dimakan,” ujar Puspo.

Yang membuat inovasi ini menarik, makanan tetap mempertahankan cita rasa khas Indonesia meski diproduksi dalam skala besar dan dikirim lintas negara untuk konsumsi jemaah haji di Arab Saudi. Menu yang diproduksi meliputi rendang, semur, gulai, hingga opor dengan berbagai varian daging dan ayam.

Menurut Puspo, hingga saat ini teknologi pangan semacam itu untuk kebutuhan haji baru dimiliki PT HaTI.
“Bahkan tidak hanya Indonesia saja, seluruh dunia. Untuk haji ini baru dari PT HATI atau Wong Solo Group yang bisa memproduksi itu sampai saat ini,” tegasnya.

Di balik ketahanan makanan tersebut, terdapat proses teknologi sterilisasi pangan berstandar tinggi. Produk dikemas secara vakum dalam kondisi higienis, lalu dipanaskan menggunakan suhu 121 derajat Celsius dengan tekanan 2 bar.

“Mengapa awet? Karena makanan diproduksi higienis, dikemas vakum, kemudian dipanasi suhu tinggi sehingga mikrobia patogen hampir 100 persen mati,” jelas Puspo.

Dengan metode itu, makanan tidak memerlukan bahan pengawet tambahan. Setelah proses sterilisasi selesai, kemasan rapat membuat mikroba dari luar tidak dapat masuk kembali.

Teknologi tersebut bahkan telah mengantongi berbagai sertifikasi internasional, mulai dari BPOM melalui PMR (Penerapan Manajemen Risiko), sertifikat halal BPJPH, ISO 22000 terkait food safety, hingga approval dari Saudi Food and Drug Authority (SFDA).

“Kalau belum mendapatkan approval dari SFDA, kita tidak bisa ekspor. Jadi empat sertifikat itu menjamin semuanya sudah memenuhi standar keamanan pangan,” katanya.

Berdasarkan sertifikasi dari SFDA, produk makanan siap saji tersebut memiliki shelf life hingga 18 bulan.
Puspo menjelaskan, inovasi pangan ini lahir dari persoalan besar saat puncak ibadah haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina).

Pada momen itu, lebih dari dua juta jemaah berkumpul di area yang sangat terbatas sehingga distribusi logistik kerap menjadi tantangan besar.

“Jemaah itu hanya mendapatkan sekitar 0,7 meter di tenda. Sangat crowded. Transportasi susah, logistik susah, dapur juga terbatas,” ungkapnya.

Sebelum adanya teknologi makanan siap saji seperti RTE (ready to eat), distribusi makanan kerap terlambat akibat kemacetan dan kepadatan massa. Dampaknya, makanan bisa basi sebelum diterima jemaah.

“Nah kalau RTE ini sebelum crowded sudah di-drop duluan. Jadi lebih aman dan efektif,” jelasnya.

Tahun ini, seluruh distribusi dilakukan menggunakan pesawat langsung dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Jeddah demi memastikan ketepatan waktu pengiriman.

Produksi konsumsi haji ini telah dimulai sejak November 2025 dengan melibatkan sekitar 400 tenaga kerja lokal. Tak hanya itu, bahan baku hingga bumbu juga berasal dari Indonesia.

“Semua lokal, warga sekitar. Bahan-bahannya juga dari petani lokal,” ujar Puspo.

Selain makanan siap saji, PT HaTI juga dipercaya memasok ratusan ton bumbu pasta khas Indonesia untuk dapur-dapur haji di Arab Saudi. 

Tujuannya agar jutaan jemaah Indonesia tetap dapat menikmati rasa masakan Nusantara selama beribadah di Tanah Suci.

“Dapur-dapur di sana wajib mendapatkan pasta dari Indonesia supaya cita rasanya tetap Indonesia,” pungkasnya. (*)

Editor : Arif F

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut