Asosiasi Pertekstilan Sampaikan 4 Tantangan Industri Tekstil, Ini Penjelasannya

Langgeng Widodo
.
Jum'at, 16 September 2022 | 09:12 WIB
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan melihat-lihat seragam tentara berbagai negara bikinan PT Sritex di sela pelepasan ekspor produk ITPT di kantor PT Sritex di Sukoharjo, Kamis (15/9/2022).

MURIA.iNews.id-Ketua Umum API (Asosiasi Pertekstilan Indonesia) Jemmy Kartiwa, memberi apresiasi kepada Sritex (PT Sri Rejeki Isman) atas keberhasilan eksport saat ini.

Menurut Jemmy Kartiwa, keberhasilan Sritex mengekspor 50 kontainer produk ITPT senilai 3,7 juta Dolar Amerika Serikat (AS) ke 20 negara yang dilepas Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan itu membanggakan.

"Karena, Industri Tekstil dan Produk Tekstil Indonesia masih dalam tahap recovery dari dua tahun didera Pandemi Covid 19," kata Jemmy Kartiwa di sela pelepasan ekspor di kantor pusat Sritex di Sukoharjo, Kamis (15/9/2022).

Pada kesempatan itu, Ketua Umum API juga menyampaikan,
pemerintah perlu terus menerus mendukung kebangkitan industri tekstil Indonesia yang saat ini menghidupi lebih dari 7 juta pekerja, termasuk di sektor sektor IKM dan UKM.

Menurut dia, saat ini, iklim investasi Industri Tekstil dan Produk Tekstil mengalami 4 tantangan besar yang harus dihadapi dunia usaha bersama pemerintah. Tantangan pertama tentang masalah krisis energi dan Inflasi.

Dikatakan, kebijakan pengurangan subsidi BBM dan krisis energi global akan menaikkan biaya produksi dan transportasi pengiriman produk TPT, Pelemahan daya beli masyarakat dan potensi kenaikan UMK 2023 yang sangat besar.

Tantangan kedua adalah perlindungan produk dalam negeri : Upaya 
pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada tenaga kerja yang bekerja di sektor TPT sangat diperlukan saat ini, mengingat bahwa Industri TPT adalah salah satu sektor yang mampu menyerap 7,5 juta tenaga kerja termasuk IKM (Industri Kecil Menengah) dari kalangan pendidikan rendah.

Tantangan ketiga adalah adanya rancangan perjanjian Indonesia dengan Bangladesh yang dikenal dengan PTA RI Bangladesh. Hal ini menjadi kekawatiran industry tekstil, mengingat rancangan perjanjian itu seperti menggelar karpet merah untuk masuknya produk tektile Bangladesh berhadapan langsung dengan TPT Indonesia.

"Predatory pricing akan terjadi dan membuat industri kecil menengah kita akan mengalami kebangkrutan," jelasnya.

Tantangan keempat adalah masalah peningkatan substitusi import dan 
penggunaan Produk Dalam Negeri. Menurut dia, Presiden Jokowi dengan tegas telah memberikan rambu-rambu strategis, memperkuat serapan produksi menjadikan industri TPT sebagai prioritas nasional.

"Namun saat ini terjadi banyak importasi produk TPT oleh importir non-produsen dan diperdagangkan melalui distribusi konvensional dan e-commerce," pungkasnya.

Editor : Langgeng Widodo
Bagikan Artikel Ini