GROBOGAN,iNewsMuria.id - Menjaga keberlangsungan kegiatan sosial memang bukan hal mudah, namun Masjid Darul Muttaqin Perumaahan Sambak, Sambak Indah Purwodadi, Grobogan mampu melaksanakannnya.
Seperti santunan anak yatim piatu, yatim piatu dan duafa yang merupakan kegiatan rutin masyarakat (donatur) dan pengurus masjid tersebut setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Tidak tanggung tanggung, kegiatan sosial tersebut sudah berlangsung selama 22 tahun pada Minggu (15/3/2026). Karena kegiatan yang dikemas dalam wadah Silaturahmi dan berbuka bersama sudah mulai dilaksanakan sejak 2004.
Seperti disampaikan oleh Ketua Panitia, Merdeka Agus Winarso bahwa kegiatan tersebut mulai digagas pengurus Masjid Darul Muttaqin sejak 2004. Dana yang dikumpulkan untuk santunan berasal dari masyarakat sekitar.
"Untuk tahun ini Alhamdulillah, dana yang berhasil dihimpun dari donatur mencapai Rp54.930.000. Terima kasih kepada para donatur," ujarnya.
Santunan tersebut pun selain dihadiri oleh 54 anak yatim piatu, yatim piatu dan duafa penerima manfaat, ada juga Ketua PKM Masjid Darul Muttaqin H Budiyono, Kyai Haji Abdul Malik Setoyan, para ulama, Lurah Danyang dan warga sekitar masjid.
Menurut Agus Winarso, 54 anak yatim piatu, yatim piatu dan duafa yang menerima santunan berasal dari RW 05, 06, 07, dan RW 09, Sambak, Sambak Indah, Kelurahan Danyang Purwodadi.
"Masing-masing menerima santunan Rp870.000 ditambah santunan pribadi dari empat keluarga," jelas Agus Winarso.
Ada hal menarik ketika anak-anak yatim piatu, yatim piatu dan duafa seusai menerima santunan. Beberapa diantara mereka penasaran dengan isi amplop sehingga mencoba membukanya.
Kyai Haji Abdul Malik Setoyan yang melihat itu pun langsung berpesan dengan nada lembut, supaya anak-anak menyimpan amplop berisi uang santunan tersebut.
"Disimpan dulu ya, dimasukan tas atau tempat yang aman agar tidak hilang. Nanti membukanya ya," kata Mbah Malik.
Sementara dalam kesempatan tersebut KH Zaenal Arifin dalam tausyiahnya mengutarakan bersyukur karena yang hadir dalam acara itu masih berpuasa dan menjaga keimanannya.
"Karena saat ini sudah banyak yang kehilangan rasa malunya. Jika dulu tidak puasa pasti ketika hendak minum memilih tempat sepi. Namun sekarang, mengaku beragama Islam namun tak malu makan, minum, merokok di tempat umum," ujarnya.
Pada hakekatnya, lanjut Zaenal Arifin, berpuasa itu melatih kejujuran. Sehingga ketika di tempat sepi pun tetap berpuasa dan menunggu magrib untuk berbuka puasa.
Kepada anak yatim, KH Zaenal Arifin menyemangati bahwa anak yatik tidak perlu khawatir apalagi takut. Karena mereka tetap akan suskes karena telah didik langsung oleh Allah.
"Selain itu, saya berpesan agar anak-anak senantiasa menjaga lisan sehingga selamat dunia akhirat," tutupnya.(*)
Editor : Arif F
Artikel Terkait
