Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Branding Desa Melalui Kesenian : Menarik, Mudah Diingat, dan Punya Kedekatan Emosional
Advertisement . Scroll to see content

Beri Kuliah Khusus di ISI, Rocky Gerung : Dari Kota Budaya, Solo kini Bergeser Jadi Sumbu Kekuasaan

Minggu, 20 September 2026 | 15:49 WIB
  • author Langgeng Widodo
Beri Kuliah Khusus di ISI, Rocky Gerung : Dari Kota Budaya, Solo kini Bergeser Jadi Sumbu Kekuasaan
Rocky Gerung ketika memaparkan materi dalam kuliah khusus Program Pascasarjana di kampus ISI Surakarta. (Foto Langgeng Widodo).

SOLO,iNewsMuria.id-Keberadaan Solo sebagai kota budaya kini telah bergeser menjadi sumbu kekuasaan di tanah air, dalam satu dekade belakangan ini. Kota Solo telah menjadi magnet bagi mereka yang haus kekuasaan.

Orang-orang yang datang ke Kota Solo yang semula banyak untuk belajar budaya atau menikmati kesenian dan budaya, kini banyak yang datang dan sowan untuk mendapat jabatan politik, mendapat kekuasaan atau melanggengkan kekuasaan

Hal itu dikatakan pengamat politik Rocky Gerung ketika memberi kuliah khusus Program Pascasarjana bertajuk Logika Seni & Otonomi Estetika di Institut Seni Indonesia /ISI Surakarta di kampus setempat.
 
"Di sini (di Kota Solo) banyak nama Joko, tapi hanya satu Joko yang sering disowani untuk mendapat itu semua," kelakar Rocky Gerung yang disambut tawa dan tepuk tangan para peserta.

Dalam situasi seperti sekarang ini lanjut Rocky Gerung, ISI Surakarta sebagai lembaga pendidikan yang didalamnya banyak budayawan dan seniman punya peranan sangat penting untuk memotong sumbu kekuasaan tersebut.

Menurut Rocky Gerung, sumbu kekuasaan yang sudah absolut hanya bisa dipotong oleh budaya atau kebudayaan. Sebab, kalau dipotong oleh politik atau ekonomi akan sulit karena mudah dibaca oleh rezim penguasa.

"Nah, seni dan budaya itu liquid atau cair, bisa memotong sumbu kekuasaan atau rantai kekuasaan jika dilakukan berulang-ulang dan bersama sama melalui sindiran atau sarkasme. Karya seni atau budaya itu bebas nilai," kata Rocky.

"Sayang, tidak banyak seniman atau budayawan idealis dan punya keberanian. Banyak seniman menjual idealisme, mendekat pada kekuasaan agar mendapatkan proyek. Nah, di sinilah ISI Surakarta punya tanggung jawab moral,," pungkasnya.

Editor: Arif F

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut