Wamentan Sudaryono: Antisipasi Konflik Selat Hormuz, Pemerintah Indonesia Perkuat Perdagangan Bebas
GROBOGAN,iNewsMuria.id - Memanasnya kawasan Selat Hormuz kembali menjadi perhatian internasional. Mengingat peran penting selat tersebut dalam distribusi minyak global.
Diperkirakan sekitar 60 persen energi dunia melalui Selat Hormuz, sehingga terjadinya gangguan di jalur tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi internasional.
“Selat Hormuz itu sekitar 60 persen energi dunia memang lewat situ. Tentu kita memantau situasi seperti apa,” ujar Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Sudaryono di Grobogan, Selasa (3/3/2026).
Menurut Sudaryono, Pemerintah Indonesia memastikan telah menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas domestik terkait konflik di Selat Hormuz.
Wamentan yang akrab disapa Mas Dar juga menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia terus memantau dinamika geopolitik tersebut secara intensif dan menghitung dampaknya.
Kendati risiko global meningkat, Sudaryono memastikan Indonesia tidak berada dalam posisi rentan terkait memanasnya situasi di Selat Hormuz.
“Salah satu langkah konkret yang diambil adalah memperluas kerja sama dagang dengan negara-negara di luar kawasan konflik, termasuk Amerika Serikat,” jelas Sudaryono.
Langkah ini dinilai strategis karena jalur logistik dari Amerika Serikat tidak melewati Selat Hormuz, sehingga lanjut Sudayono lebih aman dari gangguan keamanan di Timur Tengah.
Sudaryono pun mengapresiasi kepiawaian Presiden Prabowo Subianto dalam mengelola hubungan internasional terutama dalam perdagangan bebas dengan negara-negara lain.
Seperti menjadil kesepakatan dagang dengan Kanada, Uni Eropa, hingga Peru. Hal ini sebagai upaya alternatif untuk memastikan pasokan energi tetap terjaga.
Dengan menerapkan kebijakan tersebut Pemerintah, sambung Wamentan, terus berupaya memperkuat posisi Indonesia dalam peta perdagangan bebas global.
Visi besar pemerintah saat ini dikatakan Sudayono, adalah memastikan Indonesia tidak bergantung pada satu atau dua mitra dagang saja. Strategi diversifikasi menjadi kunci utama, baik untuk urusan impor maupun ekspor.
"Jadi kita tidak mengimpor dari satu-dua negara saja. Termasuk mengekspor juga tujuannya tidak hanya ke satu-dua negara. Diversifikasi ini adalah kunci agar perdagangan kita tetap stabil," kata Sudaryono.
Dengan langkah ini, Indonesia optimis dapat menghadapi fluktuasi ekonomi global yang dipicu oleh ketegangan di Selat Hormuz tanpa harus mengorbankan ketahanan energi nasional.(*)
Editor : Arif F