Logo Network
Network

Mengintip Wujud Tuhan dalam Wayang Tolak Bala di Wilujengan Suran

Klasik Herlambang
.
Sabtu, 05 Agustus 2023 | 12:13 WIB
Mengintip Wujud Tuhan dalam Wayang Tolak Bala di Wilujengan Suran
Mbah Lawu memainkan wayang tolak bala dalam ritual wilujengan Suran (foto: Klasik H)

SOLO, iNewsMuria.id - Diiringi lantunan tembang macapat serta shalawatan Jawa, suasana sakral pun sangat terasa di Pendopo Universitas Dharma Adi Unggul Buana (Undha AUB) Surakarta, tempat digelarnya acara Umbul Donga Wilujengan Suran.

Acara yang digelar oleh Pusat Lembaga Kebudayaan Jawa (PLKJ) pada Rabu 2 Agustus 2023 ini, merupakan prosesi tradisi ritual yang biasa digelar di tiap Bulan Suro.

Dalam acara tersebut dihadirkan pula sosok budayawan Solo, Lawu Warta atau yang biasa disapa Mbah Lawu.

Dengan serangkaian aksi teatrikalnya, Mbah Lawu mampu membius setiap orang yang hadir untuk mengikuti seluruh acara dari awal hingga selesai.

Yang menarik, dalam ritual ini Mbah Lawu menggunakan sebuah media berwujud wayang kulit, yang disebutnya merupakan perwujudan sosok Tuhan.

"Ini adalah wujud Semar. Dan Semar sendiri bisa dikatakan sebagai perwujudan Dewa atau Tuhan yang turun ke bumi. Karena itulah wayang inipun merupakan simbolisasi wujud Tuhan. Yang mana selama ini diyakini bahwa Tuhan itu tak berwujud. Sehingga bentuk dari wayang ini juga abstrak," jelas Mbah Lawu saat dijumpai usai ritual.

Wujud wayang ini memang bisa dikatakan sangat abstrak, dengan hiasan beberapa huruf Jawa di tubuhnya.

Wayang itu selanjutnya dimainkan Mbah Lawu dalam gerakan-gerakan mistis yang merupakan simbol pembersihan alam semesta. 

Gerakan-gerakan itu di antaranya dengan membakar lembaran-lembaran kertas bergambar rajah, serta tentunya sambil terus merapal mantra Singkir Tolak Bala.

Mbah Lawu dan teman-temannya memang dikenal suka menunjukkan berbagai atraksi yang memukau, dalam setiap aksinya. 

Hal itu tak lepas dari komitmennya untuk terus melestarikan tradisi-tradisi ritus warisan leluhur, yang memang penuh dengan serangkaian adegan teatrikal yang mempesona.

"Itu tadi mantra Singkir Tolak Bala serta tembang pangkur yang berisi Sastra Jendra. Tujuannya agar di bulan Suro ini segala bentuk keburukan yang ada di dunia bisa hilang. Sebab bagi masyarakat Jjawa, bulan Suro adalah bulan tirakat. Jadi harus kita isi dengan tirakat untuk membersihkan diri dan alam semesta dari sifat-sifat buruk, untuk kebaikan ke depan," lanjutnya.

Akhir prosesi ritual yang disebut Mbah Lawu sebagai bagian dari prosesi ritual ruwatan bumi itu, diisi dengan pembagian jenang Suran yang telah disiapkan oleh panitia.

Jenang Suran adalah bubur yang terbuat dari beras dengan topping beraneka lauk seperti telur, sambal goreng dan lainnya.

"Jenang Suran merupakan simbolisasi dari tuntunan untuk tirakat. Sebab sebanyak apapun kita makan jenang atau bubur, tidak akan bisa membuat kita kenyang. Karenanya di situ kita dituntut untuk tirakat. Dan hal itu sesuai dengan makna bulan Sura yang diyakini sebagai bulan untuk tirakat bagi masyarakat Jawa," ungkap Agung Diponegoro, dari Pusat Lembaga Kebudayaan Jawa (PLKJ) sebagai salah satu penyelenggara acara tersebut.

PLKJ yang berada di bawah Yayasan Karya Dharma Pancasila memang kerap menggelar berbagai acara yang bersifat budaya, sebagai wujud upaya pelestarian kebudayaan leluhur.

"Acara ini merupakan wujud dari komitmen kami untuk senantiasa melestarikan kebudayaan warisan leluhur," jelas Dr. Anggoro Panji Nugroho, Ketua Yayasan Karya Dharma Pancasila.

Tanggapan positif pun diberikan oleh Ketua Forum Budaya Mataram, BRM. Kusumo Putro, SH, MH yang secara khusus hadir menyaksikan seluruh rangkaian wilujengan.

"Atas nama Forum Budaya Mataram, kami sangat mengapresiasi acara ini. Karena tujuan dari acara wilujengan dan umbul donga ini sangat baik, yakni untuk mendoakan bangsa. Selain itu tentunya acara ini juga wujud pelestarian kebudayaan Jawa dan Indonesia," ujarnya.

Kusumo pun menambahkan bahwa FBM terus berupaya melakukan aksi untuk mewujudkan pelestarian budaya di masyarakat.

"Sejauh ini berbagai upaya terus kita lakukan sebagai wujud untuk memunculkan kesadaran pelestarian kebudayaan di masyarakat. Salah satunya tentunya adalah dengan melakukan edukasi dengan berbagai cara. Karena bagaimanapun kebudayaan adalah wujud jati diri bangsa yang harus selalu dilestarikan, untuk kebaikan bangsa ke depan," tandasnya. (*)

Editor : Langgeng Widodo

Follow Berita iNews Muria di Google News

Bagikan Artikel Ini