SOLO,iNewsMuria.id-Jangan sampai pekerjaan formal itu bergeser ke pekerjaan informal atau nonformal. Sebab kalau pekerjaan itu bergeser ke sektor informal / formal maka akan mempengaruhi struktur ekonomi, tidak terkecuali di kota Solo.
Hal itu dikatakan Wakil Sekretaris Apindo Solo, Sri Saptono Basuki di sela kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Ketenagakerjaan yang diselenggarakan APINDO Kota Surakarta berkolaborasi dengan APSAI Kota Surakarta, Sabtu (22/8/26) di Solo.
"Saya melihat bimtek ketenagakerjaan ini baik, karena kita masih konsen agar dunia usaha tetap berjalan, tidak terkecuali di Kota Solo. Kalau dunia usaha eksis, maka pengangguran akan berkurang, setidaknya tidak bertambah," kata Basuki
Banyak hal yang dibahas dalam Bimtek Ketenagakerjaan yang dibuka Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Surakarta, Pramutedy Sukoco (mewakili Wali Kota) dan dihadiri sejumlah anggota dan pengurus Apindo Kota Surakarta dan APSAI Kota Surakarta yang berjumlah seratus orang.
"Bimtek Ketenagakerjaan ini dinilai penting karena mengupas masalah keberlanjutanjutan usaha," kata ketua pelaksana kegiatan Purnomo Yosapat Harjanto, usai kegiatan.
Purnomo mengatakan, ada beberapa hal yang dibahas dalam bimtek ini yang dinilai cukup penting, yakni :
1. Kepatuhan hukum dan minim resiko, yakni memahami undang undang ketenagakerjaan terbaru untuk menghindari sanksi hukum dan denda.
2. Kelestarian lingkungan, yakni menerapkan regulasi lingkungan untuk tanggung jawab sosial dan keberlanjutan.
3. Optimalisasi operasional, yakni mengintegrasikan OSS (one stop service) untuk proses perizinan yang lebih cepat dan efisien.
4. Meningkatkan daya saing, yakni membangun praktik bisnis yang adil dan transparan, meningkatkan reputasi perusahaan.
5. Keberlanjutan jangka panjang, yakni mengantisipasi perubahan dan menciptakan landasan yang kuat untuk pertumbuhan masa depan.
Wakil Ketua Bidang Organisasi APSAI Kota Surakarta Wahyu Haryanto mengatakan, xunia usaha dapat berperan melalui berbagai hal. Mulai dari kebijakan perusahaan yang ramah keluarga, perlindungan pekerja perempuan, pencegahan kekerasan dan diskriminasi, lingkungan kerja yang aman, dukungan terhadap pendidikan anak, hingga program CSR yang benar-benar menyentuh kebutuhan anak-anak.
"Perusahaan yang ramah anak bukan berarti perusahaan menjadi kurang produktif. Justru perusahaan yang peduli terhadap keluarga dan anak akan memiliki pekerja yang lebih nyaman, loyal, produktif, dan pada akhirnya memperkuat keberlanjutan usaha. Jadi, agenda keberlanjutan usaha dan Kota Layak Anak sebenarnya memiliki titik temu yang sangat kuat," ujarnya.
Editor : Arif F
Artikel Terkait
