GROBOGAN,iNewsMuria.id - Isu pendidikan menjadi sorotan di Kabupaten Grobogan. Berdasarkan data terbaru tahun 2025 yang dirilis platform data resmi Pemkab Grobogan, tercatat ada 11.806 anak masuk dalam kategori Anak Tidak Sekolah (ATS).
Data yang yang didapat Jumat (8/5/2026), merinci sebaran ATS. Yakni Lulus Tidak Melanjutkan (LTM): 5.769 anak, Putus Sekolah (Drop Out/DO): 3.555 anak dan Belum Pernah Bersekolah (BPB): 2.482 anak
Sekretaris Disdik Kabupaten Grobogan, Suprojo DS, mengungkapkan bahwa faktor ekonomi menjadi penyebab paling dominan. Mayoritas ATS berasal dari keluarga pra sejahtera yang kesulitan membiayai kebutuhan pendidikan.
Namun, kendala anak tidak sekolah bukan hanya soal materi. Suprojo kepada wartawan menyebutkan, bahwa faktor sosial dan lingkungan juga berperan kuat.
"Ada pengaruh dari pola asuh, seperti orang tua broken home atau kurangnya dukungan lingkungan. Bahkan, masih ada pola pikir bahwa anak perempuan lebih baik segera menikah setelah usia 15 tahun ketimbang melanjutkan sekolah," ujar Suprojo.
Ia juga menyayangkan sikap sebagian orang tua yang menganggap kewajiban mereka selesai hanya dengan membelikan seragam atau tas, tanpa memantau apakah sang anak benar-benar belajar di sekolah.
Langkah yang ditempuh Disdik Grobogan, lanjut Suprojo adalah meluncurkan program Siap Gulung ATS. Program ini merupakan sistem informasi dan analisis yang dirancang untuk pelaporan gerakan layanan langsung agar anak-anak tersebut dapat kembali mengenyam pendidikan.
Langkah ini diambil setelah Suprojo melihat Angka Partisipasi Sekolah (APS) di Grobogan yang belum menyentuh 100%, yakni masih tertahan di angka 96-97%.
"Pendidikan adalah kebutuhan dasar dan amanat UUD 1945. Saya merasa prihatin melihat angka ATS yang cukup tinggi ini, sehingga sistem ini diperlukan untuk mengimplementasikan Indikator Kinerja Daerah (IKD)," tegasnya.
Selain sistem digital, Disdik Grobogan berencana menggencarkan kampanye masif di tingkat akar rumput. Bahkan Dinas Pendidikan sudah mempersiapkan sejumlah strategi.
Diantaranya melalui publikasi visual dengan pemasangan stiker, poster, dan banner bertema "Anak Grobogan Harus Sekolah" di pasar, jembatan, dan tempat ibadah.
Selain itu, tambahnya, Dinas Pendidikan juga akan berkolaborasi dengan Dispermades, Kemenag, dan pihak swasta untuk sosialisasi ke pelosok desa.
Bahkan jika memungkinkan digelar lomba Desa Bersih ATS. Kompetisi antar desa untuk memacu perangkat desa agar lebih peduli dan aktif menyisir keberadaan ATS di wilayah mereka.
Sejak tahun 2024, pihak Disdik telah rutin berkoordinasi dengan kepala desa, lurah, serta Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) untuk melakukan pendataan dan penanganan langsung di lapangan.
Melalui langkah-langkah terintegrasi ini, Pemkab Grobogan berharap angka 11.806 ATS dapat ditekan secara signifikan dalam waktu dekat.(*)
Editor : Arif F
Artikel Terkait
