JEPARA, iNewsMuria.id- Tradisi Wiwitan masih dijaga dengan khidmat oleh para pengukir di Kabupaten Jepara. Wiwitan dilakukan sebelum mata pahat menyentuh permukaan kayu.
Roni, merupakan salah satu pengukir Jepara yang menjaga tradisi tersebut. Menurutnya, Selametan Wiwitan bukan sekadar seremoni formalitas semata, melainkan gerbang spiritual yang menentukan “ruh” dari setiap guratan motif yang dihasilkan.
Secara harfiah, Wiwitan berarti “awal” atau “permulaan”. Dalam konteks penciptaan seni ukir, ritual ini merupakan bentuk penyucian niat.
Roni percaya kayu adalah benda hidup yang memiliki energi dan untuk mengolahnya menjadi sebuah karya seni, seorang seniman harus terlebih dahulu “meminta izin” kepada Sang Pencipta dan alam semesta.
“Intinya adalah berdoa dan berniat. Orang Jawa itu memulai sesuatu selalu dengan niat yang bersih,” ungkap Roni usai melakukan Wiwitan untuk pembuatan karya Pameran TATAH 2026, Sabtu, (14/3).
Di bengkel kerjanya di Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, ritual ini dilakukan dengan kesederhanaan yang mendalam: doa bersama dan selamatan kecil.
Proses ini bertujuan untuk melepaskan ego pribadi seniman, sehingga tangan yang bekerja nantinya bukan digerakkan oleh ambisi semata, melainkan oleh ketulusan batin.
Buah karya ukiran yang dikerjakan Roni ini nantinya akan ditampilkan di Pameran Tatah 2026 yang rencananya akan di selenggarakan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta pada April 2026 mendatang.
Dalam pemahaman tradisi Jawa, setiap proses penciptaan sering kali dimaknai sebagai sebuah perjalanan batin. Wiwitan menjadi langkah pertama dalam perjalanan tersebut.
Laku ini menempatkan kerja sebagai bagian dari relasi manusia dengan yang ilahi. Dari keteduhan batin itulah lahir karya yang tidak sekadar menampilkan keterampilan teknis, tetapi juga memuat rasa.
Garis-garis ukiran yang meliuk, spiral, dan organik dalam tradisi ukir Jepara tidak semata menjadi pola yang mati. Garia ukiran itu tumbuh seperti sulur yang hidup, mengikuti irama tangan pengukir yang bekerja dengan kesabaran.
"Jadi motif tidak hanya hadir sebagai ornamen, tetapi sebagai bahasa rupa yang menyimpan pengalaman spiritual dan kedalaman tradisi," ujarnya.
Menurut Roni, di tengah tuntutan produksi massal yang serba cepat, memilih untuk melakukan Wiwitan adalah sebuah keberanian.
Ia dan banyak pengukir lain tetap mempertahankan tradisi ini sebagai bagian dari cara mereka memaknai pekerjaan.
Bagi Roni, kualitas sebuah mahakarya tidak hanya diukur dari kehalusan teknik, tetapi dari seberapa besar energi doa dan perenungan yang tertanam di dalamnya.
"Saya mencoba menerjemahkan tradisi ini ke masa kini. Esensinya tetap saya pegang,” jelas Roni.
Roni menyebut, Wiwitan mengajarkan bahwa setiap keping kayu yang ditatah membawa tanggung jawab budaya dan sejarah panjang Jepara.
Sejarah yang mempertemukan berbagai pengaruh—Hindu, Buddha, Islam—serta beragam etnisitas yang kemudian membentuk harmoni visual dalam tradisi ukir pesisir Jawa.
Di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat, lanjut Roni, tradisi seperti Wiwitan mungkin tampak sederhana. Sebab tidak selalu terlihat dalam hasil akhir sebuah ukiran, tidak pula menjadi bagian dari proses industri yang terukur.
Namun menurutnya justru dalam kesunyian itulah nilai-nilai yang membentuk identitas ukir Jepara terus dijaga.
Kesadaran inilah yang kemudian menjadi salah satu landasan dalam pameran seni ukir berbasis riset dan sejarah Pameran Tatah 2026.
"Melalui praktik-praktik seperti Wiwitan, pameran ini ingin menunjukkan bahwa ukir Jepara bukan sekadar komoditas furnitur, melainkan perwujudan dari keahlian masyarakat yang berakar pada laku spiritual dan tradisi panjang," paparnya.
Roni berharap fengan mengawali proses secara benar melalui Wiwitan, karya-karya yang akan dipamerkan diharapkan menjadi sebuah “jendela” bagi dunia untuk melihat sisi modernitas Jawa yang tetap bersahaja dan berpegang teguh pada nilai-nilai ketuhanan.
Menurut Roni, menjaga kearifan lokal bukan berarti menolak zaman, melainkan memastikan bahwa dalam setiap kemajuan, manusia tidak kehilangan pegangan pada akar yang paling dalam.
"Para pengukir yang ikut dalam TATAH 2026 juga seperti itu. Jadi mebel ukir tak hanya sekadar produk semata," tandasnya.
Editor : Arif F
Artikel Terkait
