Dugaan Keracunan MBG Mencuat di Grobogan: 658 Siswa Tumbang, Ini Menu Terakhir yang Dimakan!

Fitri Mulia
Santri putra di Ponpes Miftahul Huda, Desa Ngroto, Kecamatan Gubug, Grobogan yang diduga keracunan MBG masih dalam pengawasan pengurus, Sabtu (10/1/2026). (dok.PSC Dinkes Grobogan)

GROBOGAN, iNewsMuria - Kabupaten Grobogan tengah diguncang kasus keracunan massal yang diduga berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada akhir pekan kemarin. Peristiwa yang terjadi pada Jumat dan Sabtu tersebut telah menjatuhkan ratusan korban dari berbagai jenjang pendidikan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, Djatmiko, mengonfirmasi bahwa dampak dari insiden medis ini cukup luas dan tersebar di beberapa titik. "Total korban sementara ada 658 orang, dengan lokasi terdampak meliputi Desa Ngroto, Penadaran, Glapan, dan Trisari," ujar Djatmiko pada Minggu (11/1/2026).

Para korban diketahui mulai merasakan gejala medis setelah mengonsumsi paket makanan yang dikirim oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuwaron. Berdasarkan laporan di lapangan, siswa dari tingkat PAUD, SD, SMP, hingga SMK di wilayah tersebut mengalami mual dan muntah yang hebat.

Meskipun sebagian besar korban sudah diperbolehkan pulang, puluhan pasien lainnya masih harus menjalani perawatan intensif di berbagai fasilitas kesehatan. "Hingga Minggu, sebanyak 79 orang masih dirawat di sejumlah rumah sakit dan puskesmas di wilayah Grobogan," jelas Djatmiko.

Data dari Dinkes Grobogan menunjukkan bahwa pasien tersebar di RS Ki Ageng Getas Pendowo, RS Soedjati, hingga beberapa UPTD Puskesmas terdekat. Pihak otoritas kesehatan menegaskan bahwa jumlah pasien bersifat dinamis karena pendataan terus diperbarui setiap 12 jam sekali.

Keluhan kesehatan ini muncul secara serentak setelah para siswa menyantap menu nasi kuning dengan lauk telur, abon, dan tempe orek. Tim medis segera dikerahkan ke lokasi untuk melakukan pemilahan pasien serta memberikan pengobatan darurat guna mencegah kondisi yang lebih fatal.

Dinas Kesehatan juga telah melibatkan puskesmas lintas wilayah agar proses penanganan korban bisa berjalan lebih cepat dan terorganisir. "Pasien yang memerlukan perawatan lanjutan langsung kami rujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan spesialis," tutur Djatmiko menambahkan.

Sebagai langkah investigasi, petugas telah melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) serta mengamankan sampel makanan yang dikonsumsi korban. Sampel tersebut akan diuji secara laboratorium pada Senin (12/1/2026) untuk memastikan penyebab pasti dari keracunan massal ini.
 

Editor : Arif F

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network