Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Kenali Senam Somatik, Olahraga Ringan untuk Relaksasi Bagi Perempuan Menopause
Advertisement . Scroll to see content

Menag Nasaruddin Umar Ajak Lestarikan Tradisi Sarung dan Peci Sebagai Identitas Bangsa

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:44 WIB
  • author Fitri Mulia
Menag Nasaruddin Umar Ajak Lestarikan Tradisi Sarung dan Peci Sebagai Identitas Bangsa
Menteri Agama Nasaruddin Umar. Foto istimewa

JAKARTA, iNewsMuria.id - Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak seluruh insan Kementerian Agama untuk aktif melestarikan tradisi mengenakan sarung dan peci dalam kehidupan sehari-hari. Busana khas Nusantara tersebut dinilai bukan sekadar pakaian biasa, melainkan bagian dari identitas kebangsaan yang kaya akan nilai filosofis.

Menag menjelaskan bahwa bentuk sarung yang melingkar melambangkan semangat persatuan, kesetaraan, serta kebebasan bagi seluruh elemen masyarakat Indonesia. Selain itu, keragaman motif kain sarung dari berbagai daerah turut mencerminkan kekayaan budaya bangsa yang sangat megah.

"Sarung itu menyatukan, sarung itu simbol kesetaraan, sarung itu adalah simbol kebebasan," ujar Nasaruddin Umar di Jakarta, baru-baru ini. Pihaknya menekankan pentingnya menjaga serta mengembangkan tradisi berbusana ini agar tetap relevan mengikuti perkembangan zaman.

Selain sarung, Menag juga mengulas kedudukan peci yang memiliki sejarah panjang dalam tradisi adat dan keagamaan di tanah air. Pada era tertentu, peci dipandang sebagai simbol kewibawaan yang kini telah menjelma menjadi busana resmi kebangsaan lintas agama.

Nasaruddin mengimbau agar pelestarian budaya ini dibarengi dengan inovasi model busana tanpa menghilangkan nilai sejarah dasar yang terkandung di dalamnya. Kementerian Agama diharapkan menjadi pelopor utama dalam memasyarakatkan kembali penggunaan sarung dan peci di ruang publik.

Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Pesantren Kemenag, Basnang Said, menegaskan bahwa tradisi bersarung senantiasa terjaga erat di lingkungan pondok pesantren. Ia membantah anggapan keliru sebagian pihak yang kerap mengidentikkan penggunaan sarung dengan kesan keterbelakangan.

"Sarung justru menjadi sebuah identitas kepribadian, kesederhanaan, kedalaman ilmu, bahkan simbol penjaga moral bangsa," tegas Basnang Said dalam keterangannya. Keberagaman kain tenun sarung antarwilayah dinilai sebagai wujud nyata dari semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Guna memperkuat tradisi kebudayaan tersebut di lingkungan kerja, pihak Ditjen Pesantren mendorong para pegawai untuk lebih sering berkantor dengan mengenakan perpaduan sarung dan peci. Langkah konkret ini diharapkan dapat menginspirasi instansi lain untuk menggalakkan penggunaan busana tradisional.
 

Editor: Arif F

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut