Waspadai Gangguan Kelenjar Pituitari, Penyakit Otak Tersembunyi Picu Kebutaan Permanen
JAKARTA, iNewsMuria.id - Sakit kepala yang menetap, perubahan siklus menstruasi, hingga gangguan penglihatan sering kali dianggap sebagai keluhan kesehatan biasa oleh masyarakat. Padahal, kumpulan gejala tersebut bisa menjadi indikasi awal adanya gangguan serius pada kelenjar pituitari yang terletak di dasar otak.
Kelenjar berukuran kecil ini memegang peranan krusial dalam mengendalikan berbagai hormon pertumbuhan, metabolisme, hingga fungsi reproduksi tubuh manusia. Sebagian besar tumor pada pituitari memang bersifat jinak, namun pembesarannya dapat merusak jaringan saraf di sekitarnya dan memicu komplikasi berat.
Gejala yang berkembang sangat perlahan kerap membuat pasien terlambat menyadari kondisi tersebut hingga tumor berukuran makin membesar. Kondisi darurat ini mendorong Yayasan Komunitas Pituitari Indonesia bersama Pokja Hipofisis PERKENI menggelar kampanye edukasi Pituitary Awareness Month 2026.
Salah satu ancaman paling berbahaya dari tumor ini adalah penurunan kualitas penglihatan samping yang menyempit secara bertahap tanpa disadari. “Gangguan penglihatan akibat tumor pituitari dapat berkembang perlahan dan, bila tidak ditangani, bahkan dapat menyebabkan kebutaan,” ungkap dr. Dialika Muzakkir, Sp.M, Subspesialis Neuro Oftalmologi, dalam keterangannya, Selasa (13/10/2026).
Deteksi dini menjadi kunci utama untuk mencegah kerusakan permanen pada fungsi organ vital serta meningkatkan keberhasilan terapi pengobatan. Ketua Yayasan Komunitas Pituitari Indonesia, dr. Selfy Oswari, Sp.BS, Subsp.N-Onk(K), S.Si, mengimbau publik untuk tidak mengabaikan perubahan fisik yang menetap.
Diagnosis medis yang tepat memerlukan serangkaian tes laboratorium hormonal serta pemeriksaan pencitraan otak oleh tim dokter spesialis. Langkah edukasi masyarakat ini juga didukung penuh oleh para ahli endokrinologi guna memperluas jangkauan informasi kesehatan.
Ketua Pokja Hipofisis PERKENI, dr. Dicky Levenus Tjahary, Sp.PD-KEMD, menegaskan pentingnya kepekaan masyarakat terhadap sinyal abnormal dari tubuh. “Edukasi kepada masyarakat diharapkan dapat membantu mengenalkan peran pituitari dan membuat masyarakat lebih peka terhadap perubahan tubuh yang terjadi,” jelas dr. Dicky.
Aksi nyata edukasi publik ini diwujudkan melalui kegiatan senam bersama, pemeriksaan kesehatan gratis, dan sosialisasi di area Car Free Day (CFD) Sudirman Jakarta. Pendekatan interaktif di ruang publik tersebut bertujuan agar pesan kesehatan dapat diserap dengan lebih mudah dan menyenangkan oleh masyarakat luas.
Melalui kepedulian yang terus dibangun, masyarakat diharapkan makin sigap berkonsultasi ke fasilitas kesehatan jika merasakan keluhan yang tidak biasa. Sebab, memahami fungsi kelenjar pituitari sejak dini merupakan langkah awal yang sangat berharga untuk melindungi kualitas hidup masa depan.
Editor: Arif F