JEPARA, iNewsMuria.id— Mislia langsung bertepuk tangan usai Bupati Jepara Witiarso Utomo memotong pita tanda peresmian jembatan penghubung Pendosawalan–Banyuputih, Rabu (07/01/2026).
Tak hanya Mislia, warga dua desa bertetangga itu juga menunjukkan kebahagiaannya seiring peresmian jembatan yang berada di kawasan strategis tersebut.
Sudah puluhan tahun, warga memang menantikan perbaikan jembatan tersebut.
Sebelumnya, warga kerap menyebut jembatan Pendosawalan-Banyuputih ini dengan jembatan Sirotol Mustaqim. Sebutan ini muncul karena warga kerap was-was terjatuh ketika melintas di atas jembatan yang terbuat dari besi tersebut.
Dulu, jembatan ini hanya bisa dilewati sepeda motor. Lebar jembatan tak bisa dipakai untuk simpangan dengan mobil.
Lubang terlihat di sejumlah titik lantai jembatan yang terbuat dari besi itu.
Namun kini, jembatan ini terlihat lebar, panjang dan kokoh. Mobil juga bisa melintas di atas jembatan itu.
“Sudah puluhan tahun jembatan rusak dan tak kunjung diperbaiki. Proposal sudah diajukan berkali-kali. Alhamdulillah hari ini akhirnya kami bisa melewati jembatan dengan aman dan nyaman,” ujar Mislia, warga Desa Pendosawalan ini.
Jembatan ini tidak hanya menjadi akses utama antar desa, namun juga menjadi jalur penting bagi para pekerja industri, akses distribusi produksi UMKM, serta mobilitas masyarakat sehari-hari.
"Maturnuwun Pak Bupati. Karena sekarang akses dari Pendosawalan ke Banyuputih atau sebaliknya jadi sangat lancar. Para pekerja baik dari HWI atau pabrik-pabrik lainnya pasti juga sangat senang karena jembatan ini memang punya peran vital," kata Kepala Desa Pendosawalan, Joko.
Sekretaris Daerah Kabupaten Jepara, Ary Bachtiar, menjelaskan pembangunan jembatan ini menelan anggaran sebesar Rp4 miliar. Usulan pembangunan sudah cukup lama dan sempat tertunda selama empat tahun sebelum akhirnya dapat direalisasikan pada tahun 2025.
“Lebarnya 6 meter dan panjangnya 32 meter. Ini merupakan jalan poros yang sangat vital karena menghubungkan dua kawasan industri, sehingga jalur ini cukup ramai,” jelasnya.
Bupati Jepara Witiarso Utomo berharap keberadaan jembatan ini mampu mempercepat mobilitas karyawan pabrik, mengurai kemacetan, serta memberikan dampak signifikan bagi peningkatan ekonomi masyarakat.
“Selain sebagai penghubung dua desa, jembatan ini memiliki kontribusi besar bagi aktivitas ekonomi warga,” katanya.
Terkait potensi pengembangan kawasan sekitar jembatan sebagai destinasi wisata tepi sungai, bupati menegaskan bahwa hal tersebut belum dapat dilakukan karena masih membutuhkan penanganan keamanan sungai. Pemerintah daerah akan berkoordinasi dengan BBWS untuk normalisasi sungai terlebih dahulu.
Bupati juga menyampaikan masih terdapat beberapa kekurangan fasilitas yang akan ditindaklanjuti. Di antaranya belum adanya senderan, saluran air, dan penerangan.
"Untuk penerangan jalan, direncanakan akan direalisasikan pada tahun 2028," tandasnya. (*)
Editor : Arif F
Artikel Terkait
