Masjid Berusia 400 Tahun Lebih ini Dibangun Dengan Putih Telur Sebagai Perekat Batanya

Redaksi
.
Minggu, 10 April 2022 | 16:07 WIB

MAJANE, iNewsMuria – Jejak islam dan perkembangannya pada setiap daerah selalu ditandai dengan adanya bangunan-bangunan atau tradisi tertentu. Begitu juga yang ada di puncak Salabose, Kecamatan Banggar, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.

Bangunan itu bernama Masjid Syekh Abdul Mannan, yang didirikan oleh ulama pemuka agama dengan nama yang sama. Masjid tersebut berdiri di dalam peradaban islam berbasis Suku Mandar. Kurang lebih masjid tersebut kini berusia lebih dari 400 tahun.

Masyarakat setempat meyakini jika dahulu, pembangunan masjid tersebut menggunakan putih telur sebagai perekat batu batanya.

Sejarah Masjid

Masjid ini dibangun oleh Syekh Abdul Mannan. Menurut sejarah, beliau tiba di Kerajaan Banggae saat masa pemerintahan raja ketiganya yang bernamw Daeng Ta di Masigi. Saat itu, Kerajaan Banggae masih menganut agama Hindu, terbukti dengan banyaknya bebatuan yang menjulang tinggi bagian utara puncak Salabose.

Warga setempat percaya bahwa bebatuan itu adalah tempat menyembah. Hal ini karena dulunya terdapat patung yang diyakini sebagai patung yang disembah saat Kerajaan Banggae belum menganut Islam. Patung agama Hindu itu pun disimpan oleh salah satu warga dan fotonya ada di Museum Mandar Majene.

Menurut Muhammad Gaus, imam besar Masjid Syekh Abdul Mannan yang merupakan keturunan langsung sang ulama, leluhurnya itu menikah dengan wanita bernama Besse yang merupakan keluarga dari Tomakaka Salabose, klan terpandang di wilayah Kerajaan Banggae. Dalam upaya nya menyebarkan ajaran Islam, Syek Abdul Mannan pun membangun masjid yang diyakini sebagai masjid pertama di Majene.

“Masjid ini adalah masjid Kerajaan Banggae. Saya lihat di lontar, pada tahun 1608 itu peresmian agama Islam sebagai agama kerajaan karena sebelumnya adalah agama Hindu,” kata Gaus seperti dikutip dari mandarnews.com, Senin (11/4/2022).

Keindahan Keunikan Arsitektur Bangunan

Seperti yang telah disebutkan, Masjid Syekh Abdul Mannan kabarnya dibangun ‘hanya’ dengan bermodalkan putih telur sebagai perekat dinding. Dan secara arsitektur memang masjid ini tampak sangat sederhana.

Meskipun begitu, bangunannya terbukti masih awet hingga kini dimana sebagian besar ornamen masjid seperti kubah, dinding batu, menara, serta ukiran masih orisinil lho! Keindahan arsitektur kuno masjid terlihat jelas pada bagian tempat wudhu, dimana bentuknya masih berupa batu pahat yang disusun.

Tak hanya itu saja, keindahan dan keunikan dari arsitektur Masjid Syekh Abdul Mannan adalah banyaknya ukiran dan ornamen jadul yang estetik dan sarat makna. Yang paling menonjol adalah ornamen bintang dengan lima sisi yang dipadukan dengan matahari dan bulan sabit.

“Bintang yang punya lima sisi itu merupakan simbol shalat lima waktu, matahari dan bulan makannya siang dan malam. Kita sebagai umat islam tanggung jawab mendirikan shalat waktu setiap harinya,” jelas Gaus.

Lalu ada juga wadah untuk wudu, kemudian ornamen tombak dan keris sebagai tanda peninggalan Kerajaan Banggae hingga ornamen mirip daun yang berjumlah tiga puluh, yang bermakna pedoman hidup umat Islam yakni Al-Qur’an yang terdiri dari 30 juz.

Editor : Ade Achmad Ismail
Bagikan Artikel Ini