get app
inews
Aa Text
Read Next : Sambut Hari Jadi ke Tiga Abad Grobogan, 1.000 Anak Yatim Terima Santunan dari Sukun Wartono

Salat Gerhana Bulan di Grobogan, Khatib: Teguran Lembut Agar Manusia Meningkatkan Keimanan

Selasa, 03 Maret 2026 | 21:26 WIB
header img
Khotib Nur Kholis menyampaikan ceramah saat salat Gerhana Bulan di Masjid Darul Muttaqin, Sambak, Danyang, Purwodadi, Grobogan, Selasa (3/3/2026) malam.(Arif Fajar)

GROBOGAN,iNewsMuria.id – Suasana malam Ramadan di Kabupaten Grobogan pada Selasa terasa berbeda dan lebih khidmat pada Selasa (3/3/2026) malam.

Selepas magrib, umat Islam menggelar salat Gerhana Bulan di Masjid Darul Muttaqin, Lingkungan Sambak Indah, Sambak, Kelurahan Danyang, Kecamatan Purwodadi.

Bertindak sebagai imam salat Gerhana Bulan, Mulyo Hariyanto. Kemudian selesai salat Gerhana Bulan, dilanjutkan dengan ceramah oleh Nur Kholis, Kepala KUA Purwodadi.

Khotib Nur Kholis menyampaikan pesan religi kepada para jemaan, bahwa peristiwa langit ini bukanlah sekadar fenomena astronomi biasa, melainkan tanda kebesaran Allah SWT yang Agung. Terlebih, peristiwa ini terjadi di bulan turunnya Al-Qur'an dan bulan penyucian diri.

Menurut Nur Kholis, peristiwa fenomena alam yang terjadi di Bulan Ramadan bisa menjadi refleksi diri. Gerharna Bulan yang meredupkan cahaya malam diibaratkan sebagai kondisi hati manusia yang seringkali tertutup oleh dosa dan kelalaian.

"Gerhana mengajarkan kepada kita bahwa cahaya hidup bisa hilang kapan saja. Betapa sering hati kita tertutup dosa, seperti bulan yang tertutup bayangan. Betapa sering iman kita meredup karena lalai, meski ibadah terus berjalan," ujar Nur Kholis.

Merujuk pada QS. Fussilat ayat 37, jamaah diingatkan bahwa Matahari dan Bulan adalah tanda kekuasaan Allah yang tidak pernah ingkar atau terlambat. Namun, atas izin Allah, cahaya yang biasa menerangi bumi bisa redup seketika.

Sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, lanjut Nur Kholis, umat Islam dianjurkan untuk segera melakukan salat, berdoa, dan beristighfar saat melihat gerhana. 

Fenomena ini dianggap sebagai "seruan langit" agar manusia kembali merendahkan hati di hadapan Sang Pencipta.

Momen gerhana di tengah Ramadan ini menjadi pengingat bahwa kegelapan, musibah, dan ajal bisa datang tanpa aba-aba. Jamaah diajak untuk melakukan Taubatan Nasuha (taubat yang sungguh-sungguh) sebagaimana tertuang dalam QS. At-Tahrim ayat 8.

Menurut Nur Kholis, sudahkah Ramadan ini benar-benar mengubah hati kita? Sudahkan puasa yang kita lakukan betul-betul mendekatkan kita kepada Tuhan, atau hanya sekadar menggugurkan kewajiban.

“Semoga Ramadan ini tidak berlalu, seperti gerhana yang cepat usai, tetapi meninggalkan jejak taubat, cahaya iman dan hati yang lebih tunduk kepada Allah SWT,” tutup Nur Kholis.(*)

Editor : Arif F

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut